KUMPULAN SOAL

Minggu, 17 Juli 2011

TEMPURUNG BUAT IBU

Hasan, anak satu-satunya Nenek Dullah.

Mereka tinggal di desa kecil jauh dari kota.

Hasan kecil dibesarkan hingga meraih gelar sarjana. Untuk membiayai anak satu-satunya itu, siang dan malam Nenek Dullah membanting tulang seorang diri. Semua itu dijalaninya demi cintanya kepada suaminya yang telah tiada sejak Hasan baru mulai belajar berjalan.

Mengingat ibunya yang telah tua, Hasan yang merasa dibesarkan, memboyongnya ke kota setelah disepakati oleh istrinya tercinta, Minah.

Ketika Minah hamil, Nenek Dullah mulai sakit-sakitan dan bahkan muntah darah.

Minah mendesak agar ibunya dibuatkan tempat terpisah, karena mungkin ibunya terkena TBC. Ia khawatir jika anaknya nanti lahir bisa-bisa tertular penyakit itu.

Dengan hati berat Hasan membuatkan gubug di belakang rumah dan meminta ibunya tinggal di situ.

Meskipun tidak melek huruf, Nenek Dullah cukup tahu diri, Ia menganggap umurnya adalah sisa-sisa kesenangan hidup yang telah dinikmati dan dilaluinya. Ia cukup bahagia melihat anak dan menantunya hidup bahagia…apalagi akan segera mempunyai cucu. Maka, dengan senang hati Nenek Dullah tinggal di gubug belakang rumah.

Mula-mula segala kebutuhan Nenek Dullah terpenuhi, namun lama-kelamaan sering terlupakan. Makanan di taruh di depan gubug dan nenek Dullah mengambilnya dari dalam. Piring dan gelas pecah, Hasan lupa menggantinya dan Akhirnya tempurung tergeletak didekat gubuk dipungutnya untuk tempat makan dan minum Nenek Dullah.

Anak Hasan lahir laki-laki dan diberi nama Amran. Ketika mulai besar, ia dilarang bermain-main di sekitar gubug bahkan mendekat pun tak boleh.

Suatu saat Hasan dan Minah pergi, Amran di rumah sendirian. Ia inging tahu mengapa dilarang mendekati gubug. Ia mengintip ke dalam gubug dan terlihat ada nenek pucat berambut putih sedang berbaring.

Amran bertanya dan Nenek Dullah menjawab, bahwa ia neneknya, ibu dari bapaknya.

“Nek, bukakan pintu, Nek,” pinta Amran.

Alangkah gembiranya si nenek, seolah darah segar menyiram wajahnya yang pucat, seketika berseri-seri karena girangnya.

Langkah lucu dan suara anak inilah yang selama ini dirindukannya.

Amran heran dan bertanya mengapa neneknya makan dan minum hanya pakai tempurung. Neneknya menjawab,

“Amran, Nenek orang tua tidak usah pakai piring dan gelas, cukup pakai tempurung saja.”

Amran kembali ke rumah selagi ayah dan ibunya belum pulang. Ia takut, kalau ketahuan pasti dimarahi.

Pada suatu hari Amran diajak ayah ibunya berjalan-jalan ke kota. Ia melihat tempurung di dekat selokan, teronggok di antara tumpukan sampah. Ia meminta kepada orang tuanya untuk mengambilkan tempurung itu. Permintaan aneh itu ditolak oleh Hasan dan Minah.

Tapi, sambil menangis Amran meminta terus agar diambilkan tempurng itu. Terpaksa ibunya mengambil lalu bertanya,

“Amran sayang, untuk apa tempurung ini ?”

Tanpa piker panjang si kecil, Amran menjawa,

“Untuk tempat makan dan minum Ibu kalau sudah tua seperti nenek.”

Hasan dan Minah sangat heran mendengar jawaan anaknya. Mereka bertanya,

“Mengapa begitu ?”

“Bukanlah nenek Amran yang tinggal di gubug belakang rumah, makan dan minum hanya pakai tempurung. Kalau ibu sudah tua akan Amran buatkan gubug yang jelek, dan tempurung ini untuk tempat makan dan minum Ibu,” Jawa Amran Polos.

Di siang cerah itu Hasan dan Minah seperti disambar petir. Mereka baru menyadari segala tingkah lakunya selama ini, yang menyia-nyiakan orang tua dan mertuanya.


Jumat, 15 Juli 2011

RASAKAN SEBUAH KETULUSAN

Seorang teman karib menghampiri meja kerja anda, dan memungut sebatang pensil yang patah. Pintanya, "Boleh aku pinjam ini ?" Anda yang sibuk menengok sekelebat dan berkata,"Ambi saja." Setelah itu anda lupa akan kejadian itu selamanya. Padahal bagi teman anda, pensil patah itu amat berharga demi pengerjaan tugasnya.

Tahukan anda bagaimana "rasa" sebuah ketulusan ? Setiap dari kita pasti pernah memberikan sesuatu dengan setulus murni. Namun, tidak banyak yang mampu memahaminya. Karena ketulusan bukanlah rasa, apalagi untuk dirasa-rasakan. Ketulusan adalah rasa yang tak terasa, sebagaimana anda menyilakan teman dekat anda mengambil pensil patah anda. Tiada setitikpun keberatan. Tiada setitik pun permintaan terima kasih. Tiada setitik pun rasa berjasa. Semuanya lenyap dalam ketulusan. Sayangnya tidak mudah bagi kita untuk memandang dunia ini seperti pensih patah itu. Sehingga selalu ada rasa keberatan atau berjasa saat kita bersibuk-sibuk pada keadaan diri sendiri, sehingga pensil patah pun tampak bagai pena emas. Jangan ingat-ingat perbuatan baik anda. Kebaikan yang anda letakkan dalam ingatan bagaikan debu yang tertiup angin.

=============================================================================

Wisdom of The Day

Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah anda raih,
Namun kegagalan yang telah anda hadapi, dan keberanian yang membuat adan tetap berjuang melawan rintangan yang datang bertubi-tubi
(Orisan Swett Marden)


MERASAKAN KEINDAHAN

Bukalah mata anda. Apa yang anda lihat ? Sekumpulan orang yang sibuk berjalan dan bergumam tak menentu ? Lihatlah wajah mereka ? Wajah yang murah, ketus ? Raut muka yang curiga, atau bahkan tak berekspresi ? Namun, tidakkah anda perhatikan, ada seseorang yang tersenyum kepada Anda ? Lihatlah sekali lagi. Coba, lebih teliti kali ini, tidakkah anda melihat pohon-pohon yang melambai, menyampaikan salah kepada anda ?

Sekarang konsentrasikan pendengaran anda. Apa yang anda simak ? Keriuhan ? Bisik-bisik dan pergunjingan ? Orang dengan HP yang berjibaku dengan keberisikan ? Orang yang mengumpat dan mencaci ? Suara-suara radio yang memekakan telinga ? Tenang. Renungkan sejenak. Tidakkah anda menyimak, ada senandung doa dari burung-burung kecil, yang menyanyikan lagu pada pagi hari ? Atau,sebuah irama dari serangga kecil yang membisikkan lagu tidur dikala malam ?

Lalu, tarik nafas anda dalam-dalam. Ada aroma yang memualkan ? Tenang. Hirup lagi lebih dalam. Berkonsentrasikan saat ini. Tidakkahanda merasakan semerbak keharuman yang menyuburkan bunga-bunga ?

Coba rasakan indera yanga da di kulit anda. Lembab ? Udara yang penat ? Tenang. Cobalah sekali lagi. Tindakkan anda pernah rasakan kesejukan yang membuat anda nyaman. Rasakanlah kesejukan udara dingin itu. Rasakan juga kehangatan udara yang hadir di saat terik. Rasakan, kehangatan matahari yang menyinari layaknya selimut malam.

Teman, akan selalu ada keindahan dalam setiap gerak kita. Selalu ada kesejukan dan kehangatan yang tercipta di sekitar kita. Fokuskan semua indera itu pada kebaikan. Dan anda akan merasakan keindahannya.

===============================================================================

"KATA BIJAK HARI INI"

Dan bahwa setiap pengalaman mestilah dimasukkan ke dalam kehidupan, guna memperkaya kehidupan itu sendiri. Karena tiada kata akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk kehidupan. (Annemarie Schimmel).

===============================================================================


Rabu, 13 Juli 2011

IBUNDA, KENAPA ENGKAU MENANGIS ?

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya, "Ibu, mengapa Ibu menangis ?". Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak"."Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti..."

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa ibu menangis ? Sepertinya ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas ? Sang ayah menjawab,"Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, "Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis ?".

Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,

"saat kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembuat untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dan rahimnya, walaupun seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.

Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukanlah tulang rusuknya yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak ?

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan".

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup, karena dikakinyalah kita menemukan surga.

==============================================================
Kata-kata bijak

Kasih ibu itu seperti lingkaran, tak berawal dan tak berakhir.
Kasih ibu itu selaluberputar dan senantiasa meluas, menyentuh setiap orang yang ditemuinya.
Melingkupinya seperti kabut pagi,
Menghangatkannya seperti mentari siang
dan menyelimutinya seperti bintang malam
(Art Urban)


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More